Sunday, May 31, 2009

shared thru email from page

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani 
berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi 
kawasan lampu merah Karet. 

Baju merahnya yg besar melambai-lambai di tiup 
angin. Tangan kanannya memegang ice-krim sambil 
sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicapi, 
sementara tangan kirinya mencengkam Ikatan sabuk 
celana ayahnya. 

Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum 
Karet, berputar sejenak ke kanan & kemudian duduk 
Di atas tembok nisan "Hj Rajawali binti Muhammad 
19-10-1915: 20- 01-1965" 

"Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo'a untuk 
nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu meniru 
gaya tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan 
ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia 
mendengarkan ayahnya berdo'a untuk Neneknya... 

"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya 
Yah.." Ayahnya mengangguk sambil tersenyum, sambil 
memandang pusara Ibu-nya. 

"Hmm, bererti nenek sudah meninggal 42 tahun ya 
Yah..." Kata Yani berlagak sambil matanya mengira 
dan jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah di dalam 
kubur 42 tahun ... " 

Yani menoleh kepalanya, memandang sekeliling, 
banyak kuburan di sana . Di samping kuburan 
neneknya ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini: 
19-02-1882 : 30-01-1910" 

"Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun 
yang lalu ya Yah", jarinya menunjuk nisan 
bersebelahan kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya 
mengangguk. Tangannya terangkat mengusap kepala 
anak satu-satunya. "Memangnya kenapa ndhuk( anak 
perempuan) ?" kata sang ayah menatap teduh mata 
anaknya. "Hmmm, ayah kan semalam bilang, bahwa 
kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak 
dosanya, kita akan disiksa dineraka" kata Yani 
sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?" 

Ayahnya tersenyum, "Lalu?" 
"Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek 
sudah disiksa 42 tahun dong yah di kubur? Kalau 
nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun 
nenek senang dikubur .... Ya nggak yah?" mata Yani 
bersinar keranana bisa menjelaskan kepada Ayahnya 
pendapatnya. 

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya 
berkerut, tampaknya cemas ...... "Iya nak, kamu 
pintar," kata ayahnya pendek. 

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di 
atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan 
anaknya... 42 tahun hingga sekarang... kalau 
kiamat datang 100 tahun lagi....142 tahun disiksa 
.. atau bahagia dikubur .... Lalu Ia menunduk ... 
Meneteskan air mata... 

Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya ...lalu 
kiamat masih 1000 tahun lagi berarti Ia akan 
disiksa 1000 tahun? 
' Innalillaahi WA inna ilaihi rooji'un' .... Air 
matanya semakin banyak menetes, sanggupkah ia 
selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke 
depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun 
lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur. Lalu 
setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi? 
Tahankah? padahal melihat adegan pameran dipukuli 
masa  di tv kemarin ia dah tak tahan? 

Ya Allah... Ia semakin menunduk, tangannya 
mengangkat, setinggi bahunya  naik turun tak 
teratur.... air matanya semakin membanjiri pipi 
dan janggutnya... 

"Allahumma as aluka khusnul khootimah".. berulang 
Kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak ... 
Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk 
Yani. 

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan 
Bambu. Di betulkannya selimutnya. Yani terus 
tertidur.... tanpa tahu, betapa sang bapak sangat 
berterima kasih padanya karena telah 
menyadarkannya arti sebuah kehidupan... Dan apa 
yang akan datang di depannya... 

"Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan 
Kau letakkan dihatiku..." 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...